Normatif dan Kemanusiaan v0
Dudukkan secara jelas siapa yang melakukan, karena dialah yang bertanggung jawab secara normatif. Namun, sering kali hal ini dijadikan alasan untuk menghindari hukum, misalnya dalam kasus atau masalah tertentu: yang diganti adalah orang yang memegang jabatan, atau nama PT diubah, agar terlepas dari tanggung jawab. Sebelum penggantian itu terjadi, biasanya waktu sengaja diulur-ulur atau dibuat lama. Pertanyaan yang muncul: mana yang benar, aspek kemanusiaan di atas hukum atau aspek hukum di atas kemanusiaan? Dalam negara hukum, posisi hukum harus ditegakkan. Jika melalui jalur hukum suatu perkara dinyatakan selesai, maka secara aspek normatif persoalan dianggap tuntas. Namun, hal itu belum tentu benar sepenuhnya. Secara pikiran memang selesai, tetapi aspek kemanusiaan, hati, psikologis, dan sosiologis bisa saja belum terselesaikan. Hal ini bisa bertentangan dengan nurani kemanusiaan. Cikal bakal persoalan yang tidak kunjung selesai sering berakar pada trauma masa lalu. Kasus tidak akan pernah berakhir apabila satu pihak merasa benar secara normatif, sementara pihak lain merasa benar secara psikis dan emosional. Keduanya meninggalkan luka yang sulit sembuh. Dalam hidup kita harus menyadari: kita bisa menang di pengadilan, di atas kertas, dan di atas akta, tetapi kita tidak akan pernah bisa menang melawan jeritan manusia yang menembus ke langit. Kita mungkin merasa menang karena pelit, enggan mengeluarkan uang untuk suatu hal. Namun, besoknya uang itu justru keluar dari peristiwa lain. Solusi yang lebih bijak adalah mengetuk hati: mencari jalan keluar yang tidak semata-mata normatif, melainkan dengan bicara baik-baik, bertemu secara kekeluargaan. Katakan: sudahlah, apa yang bisa kami lakukan, apa yang bisa kami berikan, untuk memperbaiki luka yang ditimbulkan orang lain. Memberi karena kesalahan sendiri itu biasa. Tetapi membantu korban karena kesalahan orang lain adalah bentuk derma, sebuah laku luhur agar para leluhur berbahagia di tanah keramat yang disakralkan, meski di dalamnya pernah terjadi kekerasan dan perbudakan. Dengan bicara baik-baik di antara semua pihak, rezeki yang kita berikan tidak akan pernah hilang.
Comments
Post a Comment